Category: Manhaj


Indahnya Hidup dibawah Naungan As-Sunnah

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. ali-imron:31)

Para pembaca yang mulia dan dirahmati oleh Allah Azza Wa Jalla, Ketahuilah bahwa seseorang yang sibuk dengan ibadah atau segala bentuk ritual keagamaan belum tentu bisa dianggap sebagai orang yang shaleh, alim atau bahkan sebagai seorang ulama. Penampilan seseorang dalam beragama atau mengamalkan agamanya hendaknya diukur sejauh mana amal atau ibadah yang dilakukan tersebut itu ikhlas dan sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, tanpa dua prinsip tersebut maka amal seseorang akan menjadi sia-sia.

Merupakan kewajiban seorang muslim adalah mereka harus beragama berdasarkan ilmu , beragama berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan beragama berdasarkan amal kebanyakan orang yang belum tentu amal tersebut benar dan mencocoki contoh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, atau dengan semangat yang menggebu-gebu dan mencontoh tokoh atau figur tertentu. Baca lebih lanjut

sebelumnya saya bermohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb Arsy yang agung, agar aku dan engkau diberi perlindungan di dunia dan di akhirat, dan agar aku dan engkau diberkahi… di manapun engkau berada, serta agar engkau dijadikan sebagai orang yang, apabila diberi, ia bersyukur, apabila diuji, ia bersabar, dan apabila ia berlaku dosa, ia memohon ampun. sesungguhnya tiga perkara ini merupakan lambang kebahagiaan. dan Ketahuilah, semoga Allah meluruskan jalanku dan jalanmu diatas ketaatan kepadaNya..

 

Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama’ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.

 

Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur’an dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur’an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur’an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dengan kata lain, Al Qur’an sesuai pemahaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sabda-sabda Shallallahu’alaihi Wasallam itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.

 

Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama’ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur’an serta sabda-sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi radhi’allahu ‘anhum ajma’in.

Baca lebih lanjut

Oleh Guru kami- alfadhil Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita. Nikmat yang Allah karuniakan kepada kita sangat banyak dan yang tidak dapat kita hitung. Allah berfirman:

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [Ibrahim : 34]

Menurut Imam Ibnul Qayyim, nikmat terbagi menjadi dua.
Pertama : Nikmat mutlaqah (mutlak). Yaitu nikmat Islam, iman, hidup berlandaskan sunnah, terhindar dari marabahaya. Hal ini dilimpahkan oleh Allah hanya kepada orang-orang mukmin, yang mereka mencintai Allah.

Kedua : Nikmat muqayyadah (terbatas). Yaitu nikmat sehat, rizki, keturunan, makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Nikmat ini diberikan oleh Allah, tidak hanya bagi kaum Mukminin, namun juga kepada orang-orang kafir dan munafiqin, sebagai bukti bahwa Allah adalah Maha Pemurah kepada setiap hambaNya, baik yang taat maupun yang ingkar.
Baca lebih lanjut

Oleh: al-Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc Hafizhahullah

 

 

1. Berguru hanya kepada buku (otodidak)[1] sehingga kehilangan suri tauladan.

 

 

Ulama salaf terdahulu melarang orang yang hanya berguru kepada buku untuk mengajar dan berfatwa, sebagaimana mereka melarang belajar al qur’an dari orang yang tidak pernah talaqqi.

 

Abu Zur’ah Ar-Razi berkata : “shohafi (yang hanya berguru kepada buku) tidak boleh berfatwa...”. (Al Faqih wal mutafaqqih 2/97).

Baca lebih lanjut

oleh: Abu Utsman Affan Basyaib

 

Mengenal Sahabat dan Keutamaannya

Ikhwani fillah, semoga Allah merahmati kita semua, merupakan salah satu pokok yang mendasar dari keyakinan Ahlus Sunnah adalah penghormatan terhadap kedudukan dan keutamaan para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, serta selamatnya hati dari kebencian dan kemarahan, serta selamatnya lisan dari celaan, hinaan, dan perkataan yang tidak pantas terhadap mereka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al Hasyr: 10) Baca lebih lanjut