قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. ali-imron:31)

Para pembaca yang mulia dan dirahmati oleh Allah Azza Wa Jalla, Ketahuilah bahwa seseorang yang sibuk dengan ibadah atau segala bentuk ritual keagamaan belum tentu bisa dianggap sebagai orang yang shaleh, alim atau bahkan sebagai seorang ulama. Penampilan seseorang dalam beragama atau mengamalkan agamanya hendaknya diukur sejauh mana amal atau ibadah yang dilakukan tersebut itu ikhlas dan sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, tanpa dua prinsip tersebut maka amal seseorang akan menjadi sia-sia.

Merupakan kewajiban seorang muslim adalah mereka harus beragama berdasarkan ilmu , beragama berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan beragama berdasarkan amal kebanyakan orang yang belum tentu amal tersebut benar dan mencocoki contoh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, atau dengan semangat yang menggebu-gebu dan mencontoh tokoh atau figur tertentu.

Oleh karenanya, mengagungkan sunnah Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam adalah suatu perkara yang agung dan sangat besar. Akan tetapi melihat kondisi kaum muslimin saat ini sungguh sangat memprihatinkan , mereka justru menolak, enggan bahkan mengolok-ngolok orang-orang yang semangat dalam menegakkan Sunnah. Padahal Allah Azza Wa Jalla berfiman, “Dan apa yang diperintahkan Rasul kepada kalian maka lakukanlah sedang apa yang beliau larang darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)

Barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.” (An Nisa’: 80)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36).

Ketiga ayat tersebut menunjukkan kewajiban bagi seorang muslim , seseorang yang mengaku sebagai pengikut Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menjadikan As-Sunnah sebagai pedoman hidupnya, sebagai satu-satunya jalan untuk bisa menggapai keridhoan Allah Azza Wa Jalla

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas Al-Qur’an bukan sekedar menyampaikan atau membacakannya secara lafazh saja, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An Nahl: 44)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya mewasiatkan bagi kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pimpinan, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka di saat seperti itu wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat!” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi dari hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no. 2549)

Mungkin Sebagian dari kita menyangka bahwa Sunnah yang dimaksud tersebut adalah sunnah dalam artian jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak mengapa. Maka Sunnah dalam pengertian ini tidak termasuk dalam pembahasan di atas atau tidak hanya terbatas pada hal tersebut saja, sunnah dalam pengertian tersebut adalah sunnah berdasarkan penjelasan ulama ahli fiqih. Sedangkan definisi Sunnah yang dimaksud pada pembahasan ini adalah Sunnah dalam artian ahli ushul. Oleh karenanya, para ulama membagi definisi Sunnah menjadi dua, yaitu definisi secara bahasa dan definisi secara Istilah.

As-Sunnah menurut bahasa  artinya adalah ath-thariqoh yaitu jalan, dan assiirah yaitu perilaku yang terpuji atau tercela, seperti dalam Sabda Rasulullah Shallalllahu alaihi wa sallam, yang artinya “Sungguh kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan Assunnah  menurut Istilah adalah petunjuk yang telah ditempuh Rasulullah dan para sahabatnya, baik berkenaan dengan Ilmu, aqidah, perkataan, perbuatan dan ketetapan.

Ketahuilah wahai saudaraku, siapa saja dari kaum muslimin yang beragama dengan ikhlas dan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka mereka akan mendapatkan banyak keutamaan yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasululllah bagi mereka yang melaksanakannya.

Diantara keutamaan tersebut adalah:

  1.   Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Merupakan Sebab Diterimanya Suatu Amalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu keutamaan terbesar dalam Ittiba’us Sunnah (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah diterimanya suatu amalan.

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat keberkahan dalam mengikuti syari’at, meraih keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggikan derajat, menentramkan hati, menenangkan badan, membuat marah syaithan, dan berjalan di atas jalan yang lurus.” (Dharuratul Ihtimam, hal. 43)

2. Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Membuahkan Persatuan Kaum Muslimin

Setiap muslim tentu sangat merindukan terwujudnya persatuan kaum muslimin. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa persatuan merupakan perkara yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Al Imam Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Di dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)

Adapun asas bagi persatuan yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan berasaskan kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih (para shahabat Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

Al Imam Al Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat 103 surat Ali Imran di atas menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan kitab-Nya (Al Qur’an) dan sunnah nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal keyakinan dan amalan. Hal ini agar kaum muslimin bersatu dan tidak tercerai-berai, sehingga akan meraih kemaslahatan dunia dan agama, serta selamat dari perselisihan. (Lihat Tafsir Al Qurthubi, 4/105)

3. Pahala Besar Bagi Orang Yang Berpegang Teguh Dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Ada seseorang yang bertanya: “Lima puluh dari mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Pahala lima puluh dari kalian.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 494)

4. Jaminan Istiqomah dan Hidayah Bagi Orang Yang Berpegang Teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Selama seseorang berada di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia akan tetap berada di atas jalan istiqomah. Sebaliknya, jika tidak demikian, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus. Sebagaimana yang dikatakan oleh shahabat

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu: Manusia akan senantiasa berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 197).

Shahabat ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mengikuti sunnah-sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 198)

Salah seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: “Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi, maka ia berada di atas jalan yang lurus.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 200)

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan jika kalian menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” (An Nur: 54)

Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata: “Jika kalian menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus, baik ucapan maupun perbuatan. Dan tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah melainkan dengan menaatinya, dan tanpa (menaatinya) tidak mungkin (akan mendapatkan hidayah) bahkan mustahil.” (Tafsir As Sa’di, hal. 521)

5.  Mendapatkan Cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala dan akan masuk Al Jannah (surga)

Bukankah kita semua ingin mendapatkan cinta dari Allah? Ketahuilah! Bahwa cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan diperoleh dengan mengikuti dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala yang telah saya sebutkan di awal tadi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Setiap umatku akan masuk Al Jannah (surga) kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya: “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku, ia akan masuk Al Jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Al Bukhari)

Para Pembaca yang dirahmati oleh Allah, dengan kita mengetahui keutamaan-keutamaan diatas semoga menjadikan kita senantiasa berada diatas Sunnah, menjadikan kita senantiasa untuk belajar tentang Sunnah, karena itulah Imam Al-Barbahari rahimahullah dalam kitab beliau Syarhus Sunnah mengatakan “ Islam itu adalah Sunnah dan Sunnah itu adalah Islam”, karena pada dasarnya Islam itu adalah Sunnah itu sendiri, Islam itu adalah apa-apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau, “Tidak ada (lagi) yang tertinggal dari (ucapan/perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu”(HR.  Imam Ath Thabarani (Al Mu’jam al kabir 2/155) dan disahihkan oleh Syaikh Al Albani). Dan Beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun (yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla) sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menyampaikan kepada umatnya (semua) kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari (semua) keburukan yang diketahuinya”, (HR Muslim). sehingga amal shaleh kita senantiasa mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alahi wa sallam.

Maraji’:

a. Intisari Aqidah Ahlussunnah Wal  Jama’ah oleh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari hafidzahullah

b. Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz hafidzahullah

c. Manhaj Alfirqotun Najiyah wath thaifah almanshuroh oleh Muhammad bin jamil Zainu rahimahullah

Ditulis di Surabaya, 21 Oktober 2011 Ba’da Shalat Isya’

Akhukum Fillah Mohammad Affan Basyaib

Iklan