Archive for Februari, 2011


Ilmu Itu Cahaya Kebodohan Itu Kegelapan

 

Asy-Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah berkata dalam kitabnya “Syarh Al-Manzhumah Al-Mimiyah” hal. 40-41. Dan kitab ini ditaqrizh (diresensi) oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly hafizhahullah:

 

Berkata Al-Imam Al-Hafizh Al-Hakamy rahimahullah:

Ilmu itu cahaya yang terang yang menerangi dengannya

 

orang yang bahagia dan orang yang bodoh dalam kegelapan

 

Ilmu itu puncak kehidupan bagi para hamba sebagaimana

 

orang-orang yang bodoh itu mati karena kebodohan mereka

Baca lebih lanjut

Iklan

Oleh
Asy-Syaikh Dr Shalih bin Ghanim As-Sadlan hafidzahullah

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan seseorang dapat dikatakan telah mendapati shalat berjama’ah bersama imam. Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini.

Pendapat Pertama.
Seseorang dikatakan mendapati shalat jama’ah bila mendapati satu rukuk bersama imam. Ini merupakan pendapat ulama Malikiyah, Al-Ghazali dari madzhab Asy-Syafi’iyah, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan juga pendapat Ibnu Abi Musa serta pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.[1]
Baca lebih lanjut

Oleh guru kami -Al-Fadhil Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Dari Abu Hurairah, dia berkata Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: ” Apabila salah seorang dari kamu sujud maka janganlah di turun (ke sujud) sebagaimana turunnya onta, dan hendaklah dia meletakkan kedua tangannya (turun dengan kedua tangannya lebih dahulu) sebelum kedua lututnya “.

Hadits riwayat Abu Dawud (840) dan lain-lain sebagaimana telah saya terangkan takhrijnya di kitab saya Takhrij Sunan Abi Dawud (no.840 & 841).

Dalam lafazh yang lain (841):

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda: ” Sengaja salah seorang dari kamu di dalam shalatnya turun (ke sujud) sebagaimana turunnya onta “.

Dari hadits ini dapat di ambil faedah – terlepas dari perselisihan tentang sah atau tidaknya hadits ini yang membutuhkan pembahasan tersendiri di lain waktu insyaa Allahu Ta’ala, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang kita turun ke sujud sebagaimana turunnya onta. Yakni beliau melarang kita menyerupai keadaan sifat dan turunnya onta. Sedangkan sifat turunnya onta sebagaimana telah disaksikan oleh manusia adalah di mulai dari bagian anggota badannya yang depan turun lebih dahulu kemudian yang belakang. Baca lebih lanjut

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana cara shalat musafir dan bagaimana pula puasanya ?

Jawaban
Shalat musafir adalah dua raka’at sejak saat dia keluar dari kampung halamannya sampai kembali kepadanya, berdasarkan kata-kata Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Baca lebih lanjut

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya masuk masjid dan saat itu jama’ah sedang ruku’. Apakah dalam keadaan seperti ini, saya harus membaca takbiratul ikhram dan takbir ruku’ (membaca dua takbir?). Dan haruskan saya membaca do’a isftitah. Baca lebih lanjut


الناس من جهة التمثيل أكفاء                  أبوهم آدم والأم حواء

نفس كنفس وأرواح مشاكلة                 وأعظم خلقت فيهم وأعضاء

فإن يكن لهم في أصلهم شرف                 يفاخرون به فالطين والماء

ما الفخر إلا لأهل العلم إنهم                  على الهدى لمن استهدى أدلاء

وقدر كل امرئ ما كان يحسنه                وللرجال على الأفعال أسماء

وضد كل امرئ ما كان يجهله                 والجاهلون لأهل العلم أعداء

ففز بعلم تعش حيا به أبدا               الناس موتى وأهل العلم أحياء

 

=== Baca lebih lanjut

يا أيها الرجل المعلم غيره *** هلا لنفسك كان ذا التعليم

أتراك تلقح بالرشاد عقولنا *** صفة وأنت من الرشاد عديم

لا تنه عن خلق وتأتي مثله *** عار عليك إذا فعلت عظيم

ابدأ بنفسك فانهها عن غيها *** فإذا انتهت عنه فأنت حكيم

فهناك ينفع إن وعظت ويقتدى *** بالقول منك وينفع التعليم

Baca lebih lanjut

Oleh Guru kami- alfadhil Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita. Nikmat yang Allah karuniakan kepada kita sangat banyak dan yang tidak dapat kita hitung. Allah berfirman:

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [Ibrahim : 34]

Menurut Imam Ibnul Qayyim, nikmat terbagi menjadi dua.
Pertama : Nikmat mutlaqah (mutlak). Yaitu nikmat Islam, iman, hidup berlandaskan sunnah, terhindar dari marabahaya. Hal ini dilimpahkan oleh Allah hanya kepada orang-orang mukmin, yang mereka mencintai Allah.

Kedua : Nikmat muqayyadah (terbatas). Yaitu nikmat sehat, rizki, keturunan, makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Nikmat ini diberikan oleh Allah, tidak hanya bagi kaum Mukminin, namun juga kepada orang-orang kafir dan munafiqin, sebagai bukti bahwa Allah adalah Maha Pemurah kepada setiap hambaNya, baik yang taat maupun yang ingkar.
Baca lebih lanjut

AKU MENCINTAINYA

oleh; Ustadzuna Al-fadhil Abu Zubair Alhawary, Lc

 

KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA …

Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?!

Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan jiwaku menjadi tentram.

Aku mecintaimu duhai perkataan yang baik

Aku mencintaimu duhai perkataan yang lembut

Aku mencintaimu duhai perkataan yang santun. Baca lebih lanjut

Oleh guru kami-alfadhil ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah

Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.

Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآَخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash: 68-70) Baca lebih lanjut