Latest Entries »

Ditulis oleh Abu Utsman Affan Basyaib

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuj i-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-j iwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu matimelainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

Sebelumnya saya bermohon kepada Allah  Azza Wa Jalla,  Rabb Arsy yang agung, agar aku dan engkau diberi perlindungan di dunia dan di akhirat, dan agar aku dan engkau diberkahi  di manapun engkau berada, serta agar engkau dijadikan sebagai orang yang, apabila diberi, ia bersyukur, apabila diuji, ia bersabar, dan apabila ia berlaku dosa, ia memohon ampun. sesungguhnya tiga perkara ini merupakan lambang kebahagiaan. dan Ketahuilah, semoga Allah meluruskan jalanku dan jalanmu diatas ketaatan kepadaNya

Wahai saudaraku-semoga Allah senantiasa menjagamu-, disini aku akan menulis sekelumit risalah sebagai bantahan sekaligus nasehat bagi saudara-saudara semua. Dan aku menasehatkan kepada kalian semua, bacalah sampai habis dari risalah ini, hilangkan seluruh persangkaan burukmu dan hadirkan persangkaan baik serta semoga risalah ini bisa menjadi salah satu wasilah menuju hidayah Allah kepadamu untuk senantiasa berada diatas sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wahai saudaraku-semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk AlHaq-, di dalam risalah yang kecil ini aku akan menulis sedikit bantahan mengenai pengaderan atau ospek yang didalamnya terdapat beberapa hal yang menyelisihi dan bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya, yang dalam hal ini saya ingin memberikan sedikit nasehat jika kalian terima alhamdulillah dan jika kalian tidak terima maka kewajibanku hanyalah menyampaikan saja.

Ketahuilah wahai saudaraku, risalah yang aku hadirkan kepada kalian ini adalah sebagai bentuk kasih sayangku padamu dan bukanlah sebagai bentuk “penyerangan” sebab ini juga adalah manifestasi dari sabda Nabi yang Mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “”Agama itu nasehat”, maka kami (shahabat) bertanya, “Bagi siapa?” Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, Rasul-Nya dan para imam kaum muslimin serta orang-orang awam dari mereka.” (HR. Muslim) atau dalam hadits yang lengkap dan yang berbunyi seperti dibawah ini:

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ . رواه ومسلم

Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Agama adalah nasehat, kami berkata: Kepada siapa? Beliau bersabda: Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya. [HR. Muslim] View full article »

بسم ألله ألرحمن ألرحيم

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wahai Saudaraku, yang perlu engkau ketahui bahwa Basmalah adalah engkau mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jazairi di dalam kitab beliau Aisarut Tafasir.

Basmalah diucapkan atau dituliskan oleh orang yang mengungkapkannya ini memiliki maksud dan tujuan yang mulia. Bahkan Allah memerintahkannya di dalam Alquran, sebagaimana dalam firmanNya yang mulia, Allah Ta’ala Berfirman

 وَقَالَ ارْكَبُواْ فِيهَا بِسْمِ اللّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Robbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud [11]: 41)

            Ayat di atas adalah perintah Allah kepada Nabi Nuh alaihimus salam, di mana Nabi Nuh memerintahkan kepada kaumnya untuk menaiki kapal dengan mengucapkan basmalah. Dan di dalam firman Allah yang lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Bacalah dengan (menyebut) nama Robbmu Yang Menciptakan. (QS. al-Alaq [96]: 1)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dan mengawali bacaannya dengan basmalah saat beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam menerima wahyu yang pertama.

Tidak hanya itu wahai saudaraku, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat menganjurkan untuk memulai segala aktivitas kita dengan basmalah. Diantara contohnya adalah ketika berwudhu’, Nabi yang mulia Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata, Berdasarkan hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ صَلاَة َلِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

Tidak sah sholatnya orang yang tidak berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang tidak menyebut asma Allah kepadanya.” (HR. Ibnu Majah 1/140/399 dan Abu Dawud 1/174/101, dihasankan oleh al-Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 320 dan dalam Irwa’ul Gholil 1/122)

 

Demikian pula saat anda hendak keluar rumah. Berdasarkan hadits dari sahabat Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَي اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِيْنَئِذٍ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ، فَتَتَنَحَّي الشَّيَاطِيْنُ, فَيَقُوْلُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ.

“Apabila seseorang ketika keluar dari rumahnya ia berkata: ‘Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya upaya dan tidak pula kekuatan selain dari Allah.’” Maka beliau melanjutkan sabdanya: “Dikatakan ketika itu kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dipelihara.’ Sehingga setan-setan pun berhamburan meninggalkannya, kemudian ada setan yang lain yang berkata: ‘Apa yang bisa kamu dapati dari seseorang yang telah diberi petunjuk dan dicukupi serta dipelihara itu?’” (HR. Abu Dawud 4/325 dan Tirmidzi 5/490. Lihat juga Shohih Tirmidzi 3/151 dan Shohihul Jami’: 6419)

Juga ketika makan, dan aktivitas makan ini setiap hari kita lakukan, maka hendaknya kita mulai dengan basmalah. Dimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda dalam  hadits dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha yang berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَاليَ، فَإِنَّ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فيِ أَوِّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلِهِ وَأَخِرِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Kalau ia lupa menyebutnya ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Dengan nama Allah di awal dan di akhir.’” (HR. Abu Dawud 3/347 dan Tirmidzi 4/288 dan ia berkata: “Hadits ini hasan shohih.” Dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi 2/167 dan dalam Riyadhus Sholihin Kitab Adabuth Tho’am)

Dan masih banyak lagi tentunya anjuran beliau yang tidak terbatas hanya pada aktivitas yang tersebut di atas saja. Berkata syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi hafizhahullahu ta’ala: “Dianjurkan bagi para hamba agar mengucapkan basmalah ketika hendak makan dan minum, juga ketika hendak memakai pakaian (dan melepasnya). Juga ketika hendak masuk dan keluar masjid, ketika hendak berkendaraan, dan bahkan ketika hendak melakukan setiap hal yang memiliki nilai arti penting.” (Aisarut Tafasir jilid yang pertama oleh Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-jazairi hafizhahullahu)

 

Ditulis di Surabaya, 15 Oktober 2011 Ba’da Shalat Shubuh

Akhukum Fillah Mohammad Affan Basyaib

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. ali-imron:31)

Para pembaca yang mulia dan dirahmati oleh Allah Azza Wa Jalla, Ketahuilah bahwa seseorang yang sibuk dengan ibadah atau segala bentuk ritual keagamaan belum tentu bisa dianggap sebagai orang yang shaleh, alim atau bahkan sebagai seorang ulama. Penampilan seseorang dalam beragama atau mengamalkan agamanya hendaknya diukur sejauh mana amal atau ibadah yang dilakukan tersebut itu ikhlas dan sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, tanpa dua prinsip tersebut maka amal seseorang akan menjadi sia-sia.

Merupakan kewajiban seorang muslim adalah mereka harus beragama berdasarkan ilmu , beragama berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan beragama berdasarkan amal kebanyakan orang yang belum tentu amal tersebut benar dan mencocoki contoh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, atau dengan semangat yang menggebu-gebu dan mencontoh tokoh atau figur tertentu. View full article »

sebelumnya saya bermohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb Arsy yang agung, agar aku dan engkau diberi perlindungan di dunia dan di akhirat, dan agar aku dan engkau diberkahi… di manapun engkau berada, serta agar engkau dijadikan sebagai orang yang, apabila diberi, ia bersyukur, apabila diuji, ia bersabar, dan apabila ia berlaku dosa, ia memohon ampun. sesungguhnya tiga perkara ini merupakan lambang kebahagiaan. dan Ketahuilah, semoga Allah meluruskan jalanku dan jalanmu diatas ketaatan kepadaNya..

 

Di tengah maraknya pemikiran dan pemahaman dalam agama Islam, klaim kebenaran begitu larisnya bak kacang goreng. Setiap kelompok dan jama’ah tentunya menyatakan diri sebagai yang lebih benar pemahamannya terhadap Islam, menurut keyakinannya.

 

Kebenaran hanya milik Allah. Namun kebenaran bukanlah suatu hal yang semu dan relatif. Karena Allah Ta’ala telah menjelaskan kebenaran kepada manusia melalui Al Qur’an dan bimbingan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam. Tentu kita wajib menyakini bahwa kalam ilahi yang termaktub dalam Al Qur’an adalah memiliki nilai kebenaran mutlak. Lalu siapakah orang yang paling memahami Al Qur’an? Tanpa ragu, jawabnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dengan kata lain, Al Qur’an sesuai pemahaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sabda-sabda Shallallahu’alaihi Wasallam itu sendiri keduanya adalah sumber kebenaran.

 

Yang menjadi masalah sekarang, mengapa ketika semua kelompok dan jama’ah mengaku telah berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits, mereka masih berbeda keyakinan, berpecah-belah dan masing-masing mengklaim kebenaran pada dirinya? Setidaknya ini menunjukkan Al Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ternyata dapat ditafsirkan secara beragam, dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu. Jika demikian maka pertanyaannya adalah, siapakah sebetulnya di dunia ini yang paling memahami Al Qur’an serta sabda-sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Jawabnya, merekalah para sahabat Nabi radhi’allahu ‘anhum ajma’in.

View full article »

Karena Mereka Menambah, maka Kami Tambah. Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam

 

لما زادوا زدنا ولو سكتوا لسكتنا

 

Oleh: 

Syaikh Salim Ath Thawil hafidzahullah

 

 

Segala puji hanya milik Alloh semata, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Amma ba’du,

 

… وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يوّرثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر

 

Sesungguhnya Alloh telah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia telah meridhoi Islam sebagai agama bagi mereka. Tatkala Rosululloh – shollallohu ‘alaihi wa sallam – meninggal dunia, beliau telah meninggalkan warisan dan ahli waris. Adapun warisan beliau adalah ilmu, sedangkan ahli warisnya adalah para ulama. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Abu Darda – rodhiyallohu ‘anhu – dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau bersabda,

 

“… dan sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para Nabi. Sedangkan para Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham, akan tetapi mereka hanyalah meninggalkan warisan berupa ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang melimpah.” [Riwayat Abu Daud (3641), at-Tirmidzi (2682), dan Ibnu Majah (223). Dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami' (2697)]

View full article »

Pernikahan Menurut Islam dari Mengenal Calon Sampai Proses Akad Nikah ( Mengenal, Nazhar, Khitbah, Akad Nikah, Walimatul ‘urs )

 

Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim

 

Proses mencari jodoh dalam Islam bukanlah “membeli kucing dalam karung” sebagaimana sering dituduhkan. Namun justru diliputi oleh perkara yang penuh adab. Bukan Coba dulu baru belikemudian habis manis sepah dibuang”, sebagaimana jamaknya pacaran kawula muda di masa sekarang. Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Berikut ini kami  perinciannya:

 

1. Mengenal calon pasangan hidup

Sebelum seorang lelaki memutuskan untuk menikahi seorang wanita, tentunya ia harus mengenal terlebih dahulu siapa wanita yang hendak dinikahinya, begitu pula sebaliknya si wanita tahu siapa lelaki yang berhasrat menikahinya. Tentunya proses kenal-mengenal ini tidak seperti yang dijalani orang-orang yang tidak paham agama, sehingga mereka menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka penjajakan calon pasangan hidup, kata mereka. Pacaran dan pertunangan haram hukumnya tanpa kita sangsikan.

Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita.

 

Yang perlu menjadi perhatian, hendaknya hal-hal yang bisa menjatuhkan kepada fitnah (godaan setan) dihindari kedua belah pihak seperti bermudah-mudahan hubungan telepon, sms, surat-menyurat, dengan alasan ingin ta’aruf (kenal-mengenal) dengan calon suami/istri. Jangankan baru ta’aruf, yang sudah resmi meminang pun harus menjaga dirinya dari fitnah. Karenanya, ketika Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang pembicaraan melalui telepon antara seorang pria dengan seorang wanita yang telah dipinangnya, beliau menjawab, Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya, bila memang pinangannya telah diterima dan pembicaraan yang dilakukan dalam rangka mencari pemahaman sebatas kebutuhan yang ada, tanpa adanya fitnah. Namun bila hal itu dilakukan lewat perantara wali si wanita maka lebih baik lagi dan lebih jauh dari keraguan/fitnah. Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki dengan wanita, antara pemuda dan pemudi, padahal belum berlangsung pelamaran di antara mereka, namun tujuannya untuk saling mengenal, sebagaimana yang mereka istilahkan, maka ini mungkar, haram, bisa mengarah kepada fitnah serta menjerumuskan kepada perbuatan keji.

View full article »

Wahai orang-orang yang terpejam matanya, perkenankanlah kami manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasiaNya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah. Sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap, sungguh nikmat malam-malammu, gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena, menikmati tidurmu diatas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikan hangatnya. View full article »

 

Bila belum bersedia melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam …

Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya …

Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang,

Kau tak mau merosak kesucian dan penjagaan hatinya..

 

Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu..

Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

 

Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..

Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH subhanahu wa ta’ala  pilihkan untukmu …

View full article »

Wahai diri..

 

Jika memang kau mencintainya karena Allah

Cintailah dia dengan cara yang benar

Cintailah dia pada saat yang tepat

Ya Robb..

Aku tak akan memaksakan diri hanya untuk sebuah perasaan

Ya Robb..

Jika dia memang jiwa yang telah Kau pilihkan untukku, berikanlah kami jalan dan petunjuk

Jika dia memang takdir bagi ku, pantaskanlah dia untuku dan pantaskanlah diriku untuknya View full article »

Wanita shalihah adalah seorang wanita yang tahan memegang bara …
Jika datang perintah dari syariat kepada salah seorang mereka, dia taat, terima, dan tunduk. Dia tidak menyanggah, tidak membangkang, ataupun mencari alasan untuk tidak menerimanya.

Perhatikanlah cerita gadis suci nan mulia ini! Cerita tentang seorang pengantin wanita…
Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Julaibib. Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?”

Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.”
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa terus mencari kesempatan untuk menikahkan Julaibib… View full article »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.